Menguak Misteri Sistem Ketuhanan Kuno Orang Jawa, Bukan Hindu atau Budha

- Sabtu, 23 Juli 2022 | 09:00 WIB
Menguak Misteri Sistem Ketuhanan Kuno Orang Jawa, Bukan Hindu atau Budha (foto: unsplash.com)
Menguak Misteri Sistem Ketuhanan Kuno Orang Jawa, Bukan Hindu atau Budha (foto: unsplash.com)

Portal Banyuwangi - Kita ketahui mayoritas penduduk Nusantara menganut ajaran Islam, bukan Hindu ataupun Budha.

Lalu pertanyaan tentang kebenaran akan sembahyang mirip dengan sholat dalam Islam? Apa sebab islam dikatakan rahmat bagi seluruh alam? Benarkan semua Nabi sebenarnya muslim?

Melansir dari kanal YouTube Pegawai Jalanan, Begini kisah sistem ketuhanan orang Jawa.

Hasil kajian pustaka oleh para ahli sejarah mengatakan bahwa sejak ratusan tahun silam.

Baca Juga: Mitos Kejatuhan Cicak Menurut Islam, Begini Kata Gus Baha

Masyarakat tanah jawa sudah menganut ajaran monoteis merupakan kepercayaan atas entitas tunggal, tidak kasat mata tetapi memiliki kekuatan ahli kodrati terhadap kehidupan dunia.

Nah oleh orang jawa entitas itulah yang diyakini dan layak disembah dan mereka sebut dengan Sanghyang Taya. Dan dari sebutan itu munculah istilah Kapitayan.

Diketahui Sanghyang Taya merupakan sumber kejadian yang tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa didengar dengan telinga, tidak bisa diraba dengan tangan, tidak bisa dibayangkan, tak bisa dipikirkan, dibanding- bandingkan dengan sesuatu.

Baca Juga: Idul Adha 1443 Hijriah, Presiden Jokowi dan Umat Islam Indonesia Lakukan Sholat Ied di Istiqlal

Dialah Taya, hampa, suwung atau awung-awung, Dia tidak dilahirkan, tidak berawal dan berakhir. Tidak ada satupun makhluk yang bisa mengenal keberadaanya.

Adapun manusia mengenalnya melalui pengecoan kekuasaanya di bumi sebagai pribadi yang mengenal sumber dari segala sumber segala sumber kehidupan.

Konon Kapitayan merupakan agama asli nenek moyang kita, jadi bukan animisme dan dinamisme yang kita ketahui dalam buku- buku sejarah.

Perlu ditekankan lagi disini bahwa konsep Hyang merupakan kepercayaan asli masyarakat Nusantara khususnya Jawa, bukan budha maupun Hindu dari India.

Baca Juga: Wajib Tahu! Inilah Bahaya, Jenis, Dan Hukum Zina Dalam Islam, Berikut Penjelasannya

Hal tersebut dikarenakan Hyang sendiri sudah dikenal terlebih dahulu di Jawa, Sunda, Melayu dan Bali yang memiliki makna ahli kodrati supranatural.

Kebenarannya bersifat ilahiyah yang mencipta, mengatur sekaligus mempengaruhi segala sesuatu yang ada di Bumi.

Hyang memiliki entitas absolut yang sulit dibayangkan, digambarkan terlebih sekadar didekati dengan panca indra kita.

Begitulah cara orang jawa bertauhid yang mengakui dan meyakini bahwa Tuhan itu Maha Esa. Itulah sebenarnya Tauhid orang Jawa sebelum agama Samawi masuk.

Baca Juga: Mengisi Pengajian di Acara Sedekah Bumi, Gus Miftah: Islam Nusantara Bukanlah Syariat Baru

Meskipun dalam agama Samawi belum ada kitab sebagai tuntunan namun orang Jawa tau adanya pakem, dimana pakem merupakan tuntunan dalam berakhlak atau tata krama.

Tata krama dalam Pakem itulah oleh orang Jawa sebagai aturan dalam keyakinan Kapitayan yang mengatur orang Jawa dalam bermasyarakat.

Hal demikian dalam islam dikenal sebagai tarekat, syariat, hakikat dan ma'rifat.

Dalam Kapitayan pun sudah dikenal dengan praktek laku yang berbeda antara masyarakat awam dan diatas awam dalam hubungannya dengan Sang Maha Tunggal yang Maha Ghaib.

Baca Juga: Ini Hukuman Bagi Pelaku Penembakan Massal dalam Pandangan Islam

Bagi kalangan awam karena meyakini Hyang bersifat ghaib maka untuk memujanya memerlukan sarana.

Maka dari keyakinan tersebut orang awam meyakini nama dan sifat yang disebut to atau toh mempunyai sifat ghaib.

Halaman:

Editor: Mohammad Syahid Satria

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X